Sejarah Candi Prambanan: Asal Usul, Pembangunan, dan Kisah di Baliknya
Candi Prambanan sudah berdiri selama lebih dari seribu tahun dan sampai sekarang masih menjadi salah satu bangunan bersejarah paling dikenal di Indonesia. Menjulang di kawasan yang dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat Jawa, candi ini menyimpan cerita tentang kerajaan, agama, arsitektur, seni, hingga perubahan besar yang pernah terjadi di Jawa. Di balik kemegahannya, Prambanan juga pernah runtuh, ditinggalkan, dan lama berada dalam kondisi terbengkalai sebelum akhirnya dipelajari dan dipugar kembali. Sejarahnya ternyata jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari batu-batu yang berdiri hari ini.
Apa Itu Candi Prambanan?
Candi Prambanan adalah kompleks percandian Hindu yang berada di kawasan perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Candi yang paling dikenal di dalam kompleks ini sering disebut Candi Loro Jonggrang.
Prambanan dikenal sebagai salah satu kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Bangunan utamanya didedikasikan kepada tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Siwa, Wisnu, dan Brahma.
Ketiga candi utama tersebut berdiri berdampingan dan menjadi bagian yang paling mudah dikenali dari kompleks Prambanan. Di sekelilingnya terdapat berbagai candi perwara dan bangunan lain yang membentuk sebuah kompleks besar.
UNESCO mencatat Prambanan sebagai kompleks keagamaan yang memiliki nilai arsitektur dan budaya luar biasa. Kompleks Warisan Dunia ini juga mencakup Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbung.
Kapan Candi Prambanan Dibangun?
Menentukan satu tanggal pasti pembangunan Prambanan tidak sesederhana menuliskan satu tahun di kalender.
Candi Prambanan dibangun pada masa Jawa Kuno, sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. UNESCO menyebut kompleks ini sebagai peninggalan yang dibangun pada abad ke-10, sementara bagian Candi Loro Jonggrang berasal dari abad ke-9.
Salah satu sumber penting untuk memahami sejarahnya adalah Prasasti Siwagrha yang bertahun 856 Masehi. Prasasti tersebut berkaitan dengan pembangunan sebuah kompleks keagamaan yang berlatar belakang Siwa pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
Karena itu, ketika orang bertanya kapan Prambanan dibangun, jawaban yang paling aman adalah bahwa pembangunannya berlangsung pada masa Jawa Kuno dan berkaitan dengan perkembangan kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9.
Siapa yang Membangun Candi Prambanan?
Nama Rakai Pikatan sering dikaitkan dengan pembangunan Candi Prambanan, khususnya Candi Loro Jonggrang.
Hubungan tersebut didukung oleh Prasasti Siwagrha yang berasal dari tahun 856 Masehi. Sumber Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyebut Rakai Pikatan sebagai penganut Siwa yang memerintahkan pembangunan candi kerajaan berlandaskan agama Siwa, yang dikaitkan dengan Candi Loro Jonggrang atau Prambanan.
Namun, pembangunan kompleks sebesar Prambanan tentu bukan pekerjaan satu orang. Ada penguasa, ahli bangunan, pemahat batu, pekerja, dan masyarakat yang terlibat dalam proses panjang tersebut.
Jadi, menyebut Rakai Pikatan sebagai tokoh yang berkaitan erat dengan pembangunan Prambanan memang memiliki dasar sejarah, tetapi bukan berarti seluruh kompleks dibangun dalam satu masa pemerintahan atau oleh satu orang saja.
Bagaimana Hubungan Prambanan dengan Kerajaan Mataram Kuno?
Prambanan tidak bisa dipisahkan dari sejarah Jawa pada masa Mataram Kuno.
Pada masa itu, Jawa Tengah dan wilayah sekitarnya menjadi pusat perkembangan kerajaan dan kehidupan keagamaan Hindu-Buddha. Berbagai bangunan keagamaan didirikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kekuasaan pada masa tersebut.
Prambanan menjadi salah satu bukti penting perkembangan tradisi Hindu, khususnya pemujaan terhadap Siwa.
Yang menarik, pada kawasan yang sama juga terdapat peninggalan Buddha seperti Candi Sewu. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah kawasan Prambanan tidak hanya berkaitan dengan satu tradisi keagamaan.
UNESCO bahkan menyebut keberadaan kompleks Hindu dan Buddha di kawasan tersebut sebagai bukti adanya kehidupan keagamaan yang berdampingan pada masa lalu.
Mengapa Candi Prambanan Didedikasikan untuk Dewa Siwa?
Prambanan merupakan kompleks yang kuat kaitannya dengan pemujaan terhadap Siwa.
Di bagian utama terdapat tiga candi yang didedikasikan kepada tiga dewa utama Hindu: Siwa, Wisnu, dan Brahma. Di hadapan masing-masing candi utama terdapat candi wahana yang berkaitan dengan kendaraan atau tunggangan para dewa tersebut.
Candi Siwa menjadi bangunan yang paling besar dan paling tinggi di antara ketiganya. Hal ini menunjukkan kedudukan penting Siwa dalam konsep keagamaan yang mendasari pembangunan kompleks tersebut.
Susunan tersebut juga menunjukkan bahwa Prambanan bukan sekadar kumpulan bangunan batu. Setiap bagian memiliki hubungan dengan konsep keagamaan dan tata ruang yang dirancang secara khusus.
Seberapa Tinggi Candi Prambanan?
Candi Siwa sebagai candi utama di kompleks Prambanan memiliki tinggi sekitar 47 meter.
Ukurannya membuat bangunan ini terlihat sangat menonjol dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Dari kejauhan, bentuknya yang tinggi dengan banyak bagian meruncing membuat Prambanan memiliki siluet yang sangat khas.
Ukuran tersebut juga memperlihatkan kemampuan teknologi bangunan masyarakat Jawa pada masa itu. Batu-batu disusun dan dipahat dengan tingkat ketelitian yang tinggi meskipun dikerjakan tanpa teknologi konstruksi modern seperti yang digunakan sekarang.
Apa Isi Tiga Candi Utama Prambanan?
Di halaman utama Prambanan terdapat tiga candi yang didedikasikan kepada Siwa, Wisnu, dan Brahma.
Candi Siwa berada di tengah dan menjadi bangunan terbesar. Di dalamnya terdapat beberapa ruang, termasuk ruang utama yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Siwa.
Di sebelah utara terdapat Candi Wisnu, sedangkan di sebelah selatan terdapat Candi Brahma.
Di depan ketiga candi utama terdapat candi yang berkaitan dengan wahana masing-masing dewa. Di antaranya terdapat Candi Nandi yang berkaitan dengan Siwa.
Susunan ini membuat halaman utama Prambanan memiliki tata ruang yang sangat teratur dan menunjukkan hubungan antara arsitektur dengan kepercayaan yang dianut pada masa pembangunan kompleks tersebut.
Apa Cerita Relief di Candi Prambanan?
Salah satu hal yang membuat Prambanan begitu menarik adalah relief yang menghiasi bagian candi.
Relief yang paling terkenal adalah kisah Ramayana. Cerita tersebut dipahat pada bagian candi dan menggambarkan perjalanan tokoh-tokoh dalam epos Ramayana.
Pengunjung dapat mengikuti rangkaian cerita dengan berjalan mengelilingi bagian tertentu dari candi.
Relief tersebut bukan hanya memiliki nilai keagamaan. Dari teknik pahatan dan gambaran yang ditampilkan, kita juga bisa melihat kemampuan seni masyarakat Jawa pada masa itu.
UNESCO menyebut relief Ramayana di Prambanan sebagai salah satu contoh penting seni pahatan batu pada masa klasik Indonesia.
Apa Hubungan Prambanan dengan Kisah Roro Jonggrang?
Kalau berbicara tentang Prambanan, hampir selalu ada satu cerita yang ikut disebut, yaitu legenda Roro Jonggrang.
Dalam cerita rakyat yang berkembang luas di masyarakat, Roro Jonggrang adalah seorang putri yang dikisahkan diminta menjadi istri Bandung Bondowoso. Ia kemudian mengajukan syarat agar Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam satu malam.
Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan tugas tersebut. Roro Jonggrang kemudian menggunakan tipu muslihat agar pembangunan dihentikan sebelum jumlah candi mencapai seribu.
Dalam versi legenda yang populer, Roro Jonggrang akhirnya dikutuk menjadi batu dan dikaitkan dengan arca Durga di Candi Siwa.
Cerita ini sangat terkenal dan menjadi bagian dari budaya populer di sekitar Prambanan. Namun, penting membedakannya dari sejarah.
Kisah Roro Jonggrang merupakan legenda atau cerita rakyat, bukan catatan sejarah yang membuktikan bahwa tokoh-tokoh tersebut benar-benar membangun Prambanan.
Mengapa Prambanan dan Candi Sewu Berdekatan?
Salah satu hal menarik di kawasan Prambanan adalah keberadaan Candi Sewu yang berlatar belakang agama Buddha tidak jauh dari kompleks Hindu Prambanan.
Keduanya berasal dari lingkungan sejarah Jawa Kuno yang sama dan menjadi bagian dari kawasan yang sangat penting pada masa tersebut.
Keberadaan dua kompleks keagamaan dengan latar berbeda dalam satu kawasan menjadi salah satu bukti menarik mengenai kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu.
UNESCO memasukkan Prambanan, Sewu, Bubrah, dan Lumbung ke dalam Prambanan Temple Compounds yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada 1991.
Mengapa Candi Prambanan Runtuh?
Prambanan yang kita lihat sekarang sebenarnya hanya sebagian dari kompleks besar yang pernah berdiri di kawasan tersebut.
Bangunan-bangunan di kawasan Prambanan mengalami kerusakan dan keruntuhan dalam perjalanan sejarah. Faktor alam, termasuk gempa bumi dan aktivitas vulkanik, turut memengaruhi kondisi bangunan.
Perubahan pusat kekuasaan di Jawa juga menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut. Setelah pusat kekuasaan bergeser, aktivitas di kawasan Prambanan tidak lagi seperti sebelumnya.
UNESCO menyebut candi-candi di kompleks Prambanan mengalami keruntuhan akibat gempa, aktivitas vulkanik, dan perubahan kekuasaan politik pada awal abad ke-11.
Kapan Candi Prambanan Ditemukan Kembali?
Setelah lama berada dalam kondisi runtuh dan tertutup oleh lingkungan sekitar, peninggalan Prambanan kembali mendapat perhatian pada masa modern.
Keberadaan reruntuhan candi sudah diketahui oleh masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Namun, penelitian dan pencatatan secara lebih sistematis kemudian dilakukan oleh para peneliti dan pemerintah kolonial.
Pada abad ke-19, perhatian terhadap Prambanan semakin besar. Bangunan yang sebelumnya hanya terlihat sebagai reruntuhan mulai dipelajari untuk memahami bentuk dan sejarahnya.
Proses untuk mengetahui kembali susunan kompleks tersebut tentu tidak mudah. Banyak batu telah runtuh dan berpindah dari posisi aslinya sehingga diperlukan penelitian untuk menentukan bagaimana bangunan tersebut dahulu berdiri.
Kapan Pemugaran Candi Prambanan Dimulai?
Upaya pemugaran Prambanan berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu panjang.
UNESCO mencatat pekerjaan restorasi pada kompleks Prambanan telah dilakukan sejak 1918. Pemugaran dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari teknik penyusunan batu secara tradisional hingga penggunaan metode modern untuk memperkuat struktur.
Pemugaran tidak sekadar menyusun batu yang berserakan. Para ahli harus memastikan bahwa batu yang dipasang kembali benar-benar memiliki hubungan dengan struktur bangunan yang tepat.
Karena itulah, proses pemugaran situs sejarah seperti Prambanan membutuhkan penelitian arkeologi, arsitektur, konservasi, dan teknik konstruksi secara bersamaan.
Apa yang Terjadi pada Prambanan Saat Gempa 2006?
Pada 27 Mei 2006, gempa bumi besar mengguncang wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Prambanan termasuk salah satu situs yang mengalami dampak dari gempa tersebut.
Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan dan proses pemulihan kemudian dilakukan secara bertahap.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjaga bangunan berusia ratusan tahun bukan pekerjaan yang selesai setelah pemugaran. Ancaman alam tetap menjadi bagian dari tantangan konservasi.
UNESCO mencatat bahwa pekerjaan restorasi dan konservasi terus dilakukan, termasuk setelah gempa 2006, dengan perhatian terhadap keaslian struktur dan metode penanganan yang tepat.
Kapan Prambanan Menjadi Warisan Dunia UNESCO?
Kompleks Prambanan resmi masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1991 dengan nama Prambanan Temple Compounds.
Penetapan tersebut bukan hanya karena Prambanan memiliki bentuk yang indah. Kompleks ini dianggap memiliki nilai universal yang penting karena menunjukkan pencapaian arsitektur, seni, dan kehidupan keagamaan masyarakat Jawa pada masa klasik.
Yang menarik, situs Warisan Dunia tersebut tidak hanya mencakup Candi Prambanan. Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbung juga termasuk dalam kompleks yang ditetapkan UNESCO.
Apa yang Membuat Prambanan Istimewa?
Prambanan memiliki banyak hal yang membuatnya berbeda dari bangunan bersejarah lainnya.
Pertama adalah ukurannya. Kompleks ini menunjukkan kemampuan masyarakat Jawa pada masa lalu dalam membangun struktur batu yang sangat besar.
Kedua adalah seni pahatnya. Relief Ramayana yang menghiasi candi menunjukkan kemampuan seniman masa itu dalam menyampaikan cerita melalui batu.
Ketiga adalah konteks sejarahnya. Di kawasan yang sama terdapat peninggalan Hindu dan Buddha yang menunjukkan kompleksitas kehidupan keagamaan Jawa pada masa lalu.
Keempat adalah perjalanan panjangnya. Prambanan pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan, kemudian mengalami keruntuhan dan ditinggalkan, sebelum akhirnya dipelajari, dipugar, dan dijaga sebagai warisan budaya.
Fakta Singkat tentang Candi Prambanan
- Nama: Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang.
- Lokasi: kawasan perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
- Latar keagamaan: Hindu, dengan pemujaan terhadap Siwa sebagai unsur utama.
- Masa pembangunan: sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.
- Tokoh yang berkaitan dengan pembangunan: Rakai Pikatan.
- Prasasti penting: Prasasti Siwagrha, bertahun 856 Masehi.
- Candi utama: Siwa, Wisnu, dan Brahma.
- Relief terkenal: kisah Ramayana.
- Warisan Dunia UNESCO: ditetapkan pada 1991.
- Kompleks UNESCO: Prambanan, Sewu, Bubrah, dan Lumbung.
Kesimpulan
Sejarah Candi Prambanan bukan hanya cerita tentang sebuah candi yang dibangun pada masa kerajaan Hindu di Jawa. Di balik bangunan yang menjulang tinggi itu terdapat perjalanan panjang tentang kekuasaan, kepercayaan, seni, teknologi, perubahan zaman, dan usaha manusia menjaga peninggalan masa lalu.
Prambanan berkembang pada masa Jawa Kuno dan memiliki hubungan kuat dengan tradisi pemujaan terhadap Siwa. Nama Rakai Pikatan juga memiliki kaitan penting dengan pembangunan kompleks tersebut, sebagaimana terlihat dari sumber sejarah seperti Prasasti Siwagrha.
Setelah mengalami perubahan zaman dan kerusakan, Prambanan kemudian menjadi reruntuhan yang membutuhkan waktu panjang untuk dipahami kembali. Pemugaran yang dilakukan sejak awal abad ke-20 menjadi bagian penting dari usaha mengembalikan bentuk dan menjaga sisa-sisa bangunannya.
Sekarang Prambanan bukan hanya tempat untuk melihat candi yang megah. Relief, tata ruang, dan peninggalan di sekitarnya membantu kita memahami bagaimana masyarakat Jawa pada masa lalu membangun, beragama, berkesenian, dan menjalani kehidupan mereka.
Mungkin itu alasan Prambanan tetap menarik untuk dikunjungi dan dipelajari sampai sekarang. Batu-batunya memang sudah berusia lebih dari seribu tahun, tetapi cerita yang tersimpan di dalamnya masih bisa dibaca oleh generasi yang hidup jauh setelah para pembangunnya tiada.
Sumber Referensi
- UNESCO World Heritage Centre — Prambanan Temple Compounds.
- Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia — informasi mengenai Mataram Kuno dan Prasasti Siwagrha.
- Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta — informasi mengenai peninggalan budaya kawasan Prambanan.
- Dokumentasi UNESCO mengenai konservasi dan kondisi Prambanan Temple Compounds.

Posting Komentar