Sejarah Candi Borobudur: Asal Usul, Pembangunan, dan Kisah di Baliknya

Daftar Isi

Candi Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri megah di Jawa Tengah. Di balik ribuan relief dan ratusan stupa yang terlihat sekarang, ada sejarah panjang yang dimulai lebih dari seribu tahun lalu. Candi ini pernah menjadi tempat penting dalam kehidupan keagamaan, kemudian ditinggalkan dan tertutup oleh tanah serta tumbuhan, sebelum akhirnya ditemukan kembali dan melalui proses pemugaran besar. Sampai hari ini, Borobudur masih menyimpan banyak cerita tentang kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.

Ilustrasi: Gambaran suasana Candi Borobudur pada masa awal pembangunannya.

Apa Itu Candi Borobudur?

Candi Borobudur adalah kompleks candi Buddha yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bangunan utamanya berdiri di atas sebuah bukit dan memiliki bentuk yang sangat khas, dengan susunan teras bertingkat yang semakin mengecil ke atas.

Kalau dilihat dari kejauhan, Borobudur terlihat seperti bangunan batu yang menjulang di tengah lanskap Jawa. Namun ketika didekati, bentuknya jauh lebih rumit. Dinding dan pagar langkan dipenuhi relief, sementara bagian atasnya memiliki stupa-stupa yang menjadi ciri khas candi ini.

UNESCO mencatat Borobudur sebagai salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Kompleks Borobudur yang masuk dalam daftar Warisan Dunia tidak hanya mencakup Candi Borobudur, tetapi juga Candi Mendut dan Candi Pawon. 

Kapan Candi Borobudur Dibangun?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah kapan sebenarnya Candi Borobudur dibangun.

Jawabannya tidak sesederhana satu tanggal tertentu. UNESCO menyebut Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, pada masa Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa. 

Sementara itu, sumber Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pernah mencatat pembangunan Borobudur dikaitkan dengan masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada sekitar 824 Masehi.

Perbedaan cara penyebutan ini penting dipahami. Pembangunan sebuah kompleks sebesar Borobudur tentu tidak berlangsung seperti proyek modern yang memiliki satu tanggal mulai dan satu tanggal selesai. Karena itu, lebih aman menyebut Borobudur sebagai bangunan yang didirikan secara bertahap pada sekitar abad ke-8 hingga ke-9.

Siapa yang Membangun Candi Borobudur?

Borobudur dibangun pada masa Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa. Nama Samaratungga sering dikaitkan dengan pembangunan candi ini berdasarkan kajian terhadap sumber-sumber sejarah dan prasasti.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Sampai sekarang, kita tidak memiliki catatan sejarah yang cukup untuk mengatakan dengan pasti siapa satu orang yang menjadi “arsitek Borobudur” dalam pengertian seperti arsitek bangunan modern.

Nama Gunadharma kadang disebut dalam cerita mengenai pembangunan Borobudur. Namun, informasi mengenai sosok tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang sama kuatnya dengan catatan arkeologis mengenai bangunan itu sendiri.

Karena itu, untuk memahami sejarah Borobudur, yang lebih penting bukan mencari satu nama arsitek, melainkan melihatnya sebagai hasil kerja besar masyarakat dan penguasa Jawa pada masa itu.

Bagaimana Bentuk Candi Borobudur?

Borobudur memiliki rancangan yang sangat berbeda dari kebanyakan bangunan yang kita lihat sekarang.

Bangunan ini tersusun dalam beberapa tingkat. Bagian bawah berbentuk bertingkat dan memiliki lima teras persegi. Di atasnya terdapat tiga teras berbentuk lingkaran, kemudian sebuah stupa utama berada di bagian paling atas.

Di tiga teras melingkar tersebut terdapat 72 stupa berlubang. Masing-masing stupa berisi arca Buddha.

UNESCO menjelaskan bahwa pembagian vertikal Borobudur berkaitan dengan konsep kosmologi Buddha, yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Ketiga bagian tersebut menggambarkan tingkatan kehidupan spiritual dalam ajaran Buddha. 

Apa Makna Bentuk Candi Borobudur?

Kalau hanya melihat bentuknya, Borobudur mungkin terlihat seperti susunan teras batu yang semakin tinggi. Namun, susunan tersebut sebenarnya memiliki makna.

Bagian-bagian candi menggambarkan perjalanan manusia dari kehidupan yang masih terikat keinginan menuju tingkatan yang lebih tinggi secara spiritual.

Itulah sebabnya perjalanan mengelilingi Borobudur tidak hanya dilakukan dengan menaiki tangga. Relief dan susunan ruangnya ikut membentuk pengalaman yang berkaitan dengan perjalanan spiritual.

UNESCO menyebut bentuk Borobudur sebagai perpaduan antara stupa, candi, dan konsep gunung bertingkat yang berkaitan dengan kosmologi Buddha.

Berapa Jumlah Stupa dan Arca Buddha di Borobudur?

Salah satu bagian paling menarik dari Borobudur adalah stupa dan arca Buddha yang jumlahnya sangat banyak.

Pada tiga teras berbentuk lingkaran terdapat 72 stupa berlubang. Di dalam stupa-stupa tersebut terdapat arca Buddha.

Selain itu, relief menghiasi dinding dan pagar langkan dalam area yang sangat luas. UNESCO mencatat luas permukaan relief Borobudur sekitar 2.520 meter persegi. 

Relief-relief tersebut bukan sekadar hiasan. Dari sana, para peneliti dapat mempelajari berbagai gambaran mengenai kehidupan masyarakat Jawa masa lampau, termasuk kehidupan sosial, budaya, keagamaan, dan lingkungan mereka.

Relief Borobudur Menceritakan Apa?

Kalau berjalan mengelilingi Borobudur, kita akan menemukan ribuan panel relief yang memenuhi bagian dinding candi.

Relief tersebut menggambarkan berbagai cerita dan kehidupan manusia. Ada kisah yang berkaitan dengan ajaran Buddha, kehidupan sehari-hari, perjalanan, perdagangan, lingkungan, hingga gambaran tentang masyarakat pada masa itu.

Menariknya, relief Borobudur juga memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa pada masa tersebut sudah mengenal kehidupan maritim. Beberapa panel menggambarkan kapal dan aktivitas yang berkaitan dengan pelayaran.

Karena itu, relief Borobudur bisa dianggap seperti sebuah “jendela” yang membantu kita membayangkan kehidupan masyarakat Jawa lebih dari seribu tahun lalu.

Mengapa Borobudur Sempat Ditinggalkan?

Ada satu bagian dari sejarah Borobudur yang masih menyimpan pertanyaan besar: mengapa candi ini akhirnya ditinggalkan?

Yang diketahui adalah Borobudur digunakan sebagai tempat keagamaan Buddha sejak pembangunannya hingga suatu masa antara abad ke-10 dan ke-15. Setelah itu, kompleks tersebut tidak lagi digunakan seperti sebelumnya. 

Perubahan pusat kekuasaan di Jawa dan perubahan kehidupan keagamaan merupakan bagian dari konteks yang sering dibahas dalam sejarah Borobudur. Namun, tidak ada satu bukti sederhana yang dapat menjelaskan bahwa candi ini ditinggalkan hanya karena satu peristiwa tertentu.

Seiring waktu, bangunan tersebut semakin tertutup oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar masyarakat kemudian tidak lagi melihat kemegahan Borobudur seperti yang kita kenal sekarang.

Siapa yang Menemukan Kembali Borobudur?

Dalam sejarah modern, nama Thomas Stamford Raffles sering dikaitkan dengan penemuan kembali Borobudur.

Pada 1814, ketika Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur di Jawa, ia mendapatkan laporan mengenai adanya bangunan kuno besar di daerah Borobudur. Raffles kemudian menugaskan H.C. Cornelius untuk melakukan penyelidikan dan membuka bagian bangunan yang tertutup tanah serta tumbuhan.

Proses tersebut membuat struktur Borobudur kembali terlihat setelah lama tertutup. Namun, menyebut Raffles sebagai “orang yang menemukan Borobudur” perlu diberi konteks karena keberadaan bangunan tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh masyarakat setempat. Yang lebih tepat, Raffles dan timnya berperan dalam proses pembukaan serta pendokumentasian kembali Borobudur dalam catatan sejarah modern.

Bagaimana Kondisi Borobudur Setelah Ditemukan Kembali?

Setelah dibuka dari tanah dan semak belukar, kondisi Borobudur ternyata jauh dari kata baik.

Banyak batu tidak lagi berada di posisi aslinya. Sebagian arca mengalami kerusakan, sementara struktur bangunan juga menghadapi masalah akibat air dan faktor lingkungan.

Pada masa sebelum pemugaran besar, berbagai upaya dilakukan untuk memahami sekaligus menyelamatkan bangunan tersebut. Sayangnya, beberapa tindakan pada masa itu justru berpotensi menambah kerusakan karena ilmu konservasi belum berkembang seperti sekarang. 

Kondisi inilah yang akhirnya mendorong munculnya upaya pemugaran secara lebih serius.

Pemugaran Pertama Borobudur

Pemugaran besar pertama Borobudur berlangsung pada 1907 hingga 1911. Pekerjaan ini dipimpin oleh Theodore van Erp.

Pada 25 April 1907, van Erp mendapat mandat untuk mendokumentasikan kondisi Borobudur sekaligus melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Pekerjaannya bukan sekadar membersihkan candi. Batu-batu yang berserakan harus dipelajari dan dikembalikan sedekat mungkin ke posisi semula. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap batu memiliki hubungan dengan struktur di sekitarnya.

Balai Konservasi Borobudur mencatat pekerjaan rekonstruksi tersebut selesai pada 1911. Pemugaran ini menjadi salah satu tonggak penting dalam usaha menyelamatkan Borobudur dari kerusakan yang lebih parah. 

Mengapa Borobudur Dipugar Lagi?

Pemugaran pertama memang berhasil mengembalikan banyak bagian Borobudur, tetapi masalah bangunan belum sepenuhnya selesai.

Air menjadi salah satu persoalan utama. Air hujan yang masuk ke struktur batu dapat memengaruhi kestabilan bangunan dan mempercepat kerusakan material.

Karena itu, setelah beberapa dekade, diperlukan upaya penyelamatan yang jauh lebih besar. Pemerintah Indonesia kemudian bekerja sama dengan UNESCO untuk melakukan pemugaran besar berikutnya.

Pemugaran Besar 1973–1983

Pemugaran kedua Borobudur dimulai pada 1973 dan berlangsung selama sekitar sepuluh tahun.

Proyek ini menjadi salah satu pekerjaan konservasi cagar budaya terbesar pada masanya. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNESCO untuk membongkar, membersihkan, memperbaiki, dan menyusun kembali bagian-bagian candi dengan pendekatan konservasi yang lebih maju.

Balai Konservasi Borobudur mencatat pemugaran kedua berlangsung dari 1973 hingga 1983. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan Borobudur agar dapat terus dinikmati dan dipelajari oleh generasi berikutnya. 

UNESCO juga mencatat bahwa Borobudur direstorasi dengan bantuan UNESCO pada periode tersebut. 

Kapan Borobudur Menjadi Warisan Dunia UNESCO?

Borobudur resmi masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1991.

Yang terdaftar bukan hanya bangunan utama Borobudur. UNESCO menetapkannya sebagai Borobudur Temple Compounds, yang mencakup Borobudur, Mendut, dan Pawon.

Penetapan tersebut menunjukkan bahwa nilai Borobudur tidak hanya terletak pada ukurannya. Arsitektur, relief, nilai keagamaan, sejarah, dan hubungannya dengan perkembangan budaya di Jawa membuat kompleks ini memiliki nilai universal yang dianggap penting bagi dunia. 

Apa Hubungan Borobudur, Mendut, dan Pawon?

Kalau mendengar nama Borobudur, kebanyakan orang langsung membayangkan candi utama yang penuh stupa. Padahal, dalam penetapan UNESCO, Borobudur merupakan bagian dari sebuah kompleks yang juga mencakup Candi Mendut dan Candi Pawon.

Ketiga candi tersebut berada di kawasan yang relatif berdekatan dan memiliki hubungan dalam konteks keagamaan Buddha.

UNESCO menyebut ketiganya sebagai tiga monumen yang mewakili tahapan dalam pencapaian Nirwana. Karena itu, hubungan Borobudur dengan Mendut dan Pawon bukan sekadar karena letaknya berdekatan. Ketiganya memiliki hubungan budaya dan keagamaan yang menjadi bagian dari nilai kompleks Borobudur. 

Fakta Menarik tentang Candi Borobudur

  • Lokasi: Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
  • Masa pembangunan: sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
  • Dinasti: berkaitan dengan Dinasti Syailendra.
  • Stupa berlubang: 72 buah.
  • Arca Buddha: terdapat di dalam stupa-stupa pada teras melingkar dan bagian lain candi.
  • Pemugaran pertama: 1907–1911 di bawah pimpinan Theodore van Erp.
  • Pemugaran kedua: 1973–1983 dengan kerja sama pemerintah Indonesia dan UNESCO.
  • Warisan Dunia UNESCO: ditetapkan pada 1991 sebagai Borobudur Temple Compounds.
  • Kompleks UNESCO: Borobudur, Mendut, dan Pawon.

Kesimpulan

Sejarah Candi Borobudur adalah cerita panjang tentang pembangunan, kejayaan, perubahan, kerusakan, penemuan kembali, dan usaha manusia untuk menjaga peninggalan masa lalu.

Candi ini dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga ke-9 dan menjadi salah satu bukti penting perkembangan agama Buddha serta kebudayaan Jawa pada masa itu.

Borobudur kemudian mengalami masa ketika tidak lagi digunakan seperti sebelumnya dan akhirnya tertutup oleh tanah serta tumbuh-tumbuhan. Pada awal abad ke-19, bangunan tersebut kembali dibuka dan mulai mendapat perhatian dalam catatan sejarah modern.

Perjalanan Borobudur belum berhenti di sana. Pemugaran pertama pada 1907–1911 dan pemugaran besar pada 1973–1983 menjadi bagian penting dari usaha menyelamatkan candi tersebut.

Sekarang, Borobudur bukan hanya salah satu tujuan wisata terkenal di Indonesia. Ia juga merupakan warisan budaya yang membantu kita memahami kehidupan, kepercayaan, seni, teknologi, dan cara pandang masyarakat Jawa pada masa lampau.

Mungkin itu yang membuat Borobudur tetap menarik sampai sekarang. Kita tidak hanya melihat batu yang disusun lebih dari seribu tahun lalu, tetapi juga membaca cerita yang ditinggalkan oleh orang-orang yang hidup jauh sebelum kita.

Sumber Referensi

  • UNESCO World Heritage Centre — Borobudur Temple Compounds.
  • Balai Konservasi Borobudur, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia — Arsip dan informasi pemugaran Borobudur.
  • Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia — informasi Borobudur sebagai Warisan Dunia.
  • Arsip Nasional Republik Indonesia — dokumentasi sejarah dan pemugaran Candi Borobudur.

Posting Komentar